Selasa, 11 Mei 2010

KONSEP – KONSEP POKOK DALAM SUPERVISI

RESUME MATA KULIAH
ADMINISTRASI DAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Oleh Ramahadin Damanik


KONSEP – KONSEP POKOK DALAM SUPERVISI

1. Pengertian dan Fungsi Supervisi
Terlalu banyak tokoh yang melakukan pendefinisian tentang supervise, hal ini lazim terjadi, karena factor social, politik, ekonomi maupun factor yang lain yang mengkonstruksi definisi tersebut, setidaknya dalam kesempatan kali ini, ada beberapa pengertian tentang supervise menurut beberapa tokoh atau sumber yang lain yang akan di paparkan, semoga definisi tersebut representative dan sesuai dengan konteks zaman, antara lain;
a. Dalam Carter Good’s Dictionary of Education yang dikutip oleh Oteng Sutisna ( 1983 ), supervise didefinisikan sebagai ;
“ Segala sesuatu dari para pejabat sekolah yang diangkat yang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga pendidikan lain dalam perbaikan pengajaran, melihat stimulasi pertumbuhan professional dan perkembangan dari para guru, seleksi dan revisi tujuan – tujuan pendidikan, bahan – bahan pengajaran, dan metode – metode mengajar, dan evaluasi pengajaran “

b. Kimball Wiles ( 1955 ) mendefinisikan supervise sebagai “ bantuan dalam pengembangan situasi belajar – mengajar agar memperoleh kondisi yang lebih baik,” walaupun tujuan akhirnya adalah hasil belajar siswa, namun yang diutamakan adalah bantuan kepada guru, yang tentunya pada akhirnya akan berdampak kepada siswa, karena ada hubungan antara kemampuan yang dimiliki guru terhadap keberhasilan proses belajar.

c. Broadmab et.al yang dikutip oleh Oteng Sutisna ( 1983 ; 56 ) dalam buku yang dia tulis, yaitu ;
“ Supervision of instruction in the effort to stimulate, coordinate, and guide the continued growth of the teacher in the school, both individually and collectively, in better understanding and more effective performance at all the function of instruction so that may be better able to stimulate and guide the continued growth of every pupil toward the richest and most intelligent participation and modern democratic society.”
Dalam kutipan tersebut menjelaskan bahwa supervise bertujuan untuk membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai tujuan tersebut, selain itu supervise juga membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. Dan juga bantuan itu diberikan kepada guru agar mampu mengidentifikasi kesulitan individual siswa sehingga dapat merencanakan pembelajaran secara lebih tepat, melalui analisis kebutuahan dan kondisi yang dimiliki siswa.
Broadmab juga menyebutkan bahwa supervise bertujuan membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim efektif , bekerja sama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya, dan makna lain yang terkandung didalamnya adalah bahwa supervise dimaksudkan untuk membantu guru dalam member pengertian kepada masyarakat mengenai program yang sudah dan direncanakan oleh sekolah agar masyarakat dapat mengerti dan membantu usaha sekolah.

d. Sergiovani ( 1980 ) menyatakan bahwa supervise bukan hanya dilakukan oleh pejabat yang ditunjuk tetapi oleh seluruh personel yang ada disekolah ( by the entire school staffs ), sehingga tujuan utama kegiatan supervise adalah meningkatkan kualitas pembelajaran, yang harapan akhirnya juga pada prestasi siswa, sehingga dalam prosesnya semua unsure memiliki kaitan dan hubungan yang dialektis, antara lain ; siswa, guru dan personel lain, peralatan, pengelolaan, maupun lingkungan tempat belajar.
Dari beberapa definisi yang dikemukan oleh beberapa tokoh, setidaknya ada tiga fungsi supervise, yaitu ; ( 1 ) Sebagai kegiatan meningkatkan mutu pembelajaran, ( 2 ) Sebagai pemicu atau penggerak terjadinya perubahan pada unsure – unsure yang terkait dengan pembelajaran, dan ( 3 ) sebagai kegiatan memimpin dan membimbing.
1) Fungsi Meningkatkan Mutu Pembelajaran
Supervisi yang berfungsi meningkatkan mutu pembelajaran merupakan supervise dengan ruang lingkup yang sempit, tertuju pada aspek akademik, khususnya diruang kelas ketika guru sedang memberikan bantuan dan arahan kepada siswa.
2) Fungsi Memicu Unsur yang terkait dengan pembelajaran
Supervisi yang berfungsi memicu atau penggerak terjadinya perubahan tertuju pada unsure – unsure yang terkait dengan atau bahkan yang merupakan factor – factor yang berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, oleh karena sifatnya melayani atau mendukung kualitas pembelajaran, supervise ini dikenal dengan istilah supervise administrasi.
3) Fungsi membina dan memimpin
Dalam hal ini supervise merupakan kegiatan yang diarahkan kepada penyediaan kepemimpinan bagi para guru dan tenaga pendidikan lain, maka jelas bahwa supervise mempunyai fungsi memimpin yang dilakukan oleh pejabat yang diserahi tugas memimpin sekolah, yaitu kepala sekolah, diarahkan kepada guru da tenaga tata usaha.

2. Tipe – Tipe Supervisi
Jika dikaitkan dengan konsep lama bahwa supervise dilakukan oleh pemimpin sebagai orang yang berada diatas, yang berperan sebagai pemimpin dan pembimbing, maka tipe – tipe supervise tidak bisa dilepaskan dari tipe – tipe kepemimpian, tetapi juga tipe – tipe kepengawasan, Maka setidaknya ada lima tipe supervise, yaitu ;




a. Tipe Inspeksi
Tipe ini sering ditemukan dalam administrasi dan model kepemimpinan otokratis, karena dalam supervise ini mengutamakan pencarian kesalahan orang lain, sehingga personel yang melaksanakan tipe ini disebut “ inspektur “ petugas yang bertugas mengawasi pekerjaan guru, supervise inspeksi ini dijalankan terutama untuk mengawasi, meneliti dan mencermati apakah guru dan petugas sekolah sudah melaksanakan seluruh tugas yang diperintahkan serta ditentukan oleh atasannya, selain itu juga supervisor mengukur sejauh mana tugas – tugas yang diperintahkan tersebut sudah dapat diselesaikan.

b. Tipe Laisses Faire
Tipe Laisses Faire merupakan supervise yang dilakukan dengan memberikan kebebasan gerak kepada unsure – unsure yang ada dalam sebuah lembaga atau institusi untuk berinisiatif dalam mengembangkan segala hal. Satu sisi tipe ini baik, jika individu – individu yang ada dalam unsure tersebut memiliki kemampuan yang relative sama, akan tetapi tipe ini akan menjadi tidak baik jika diterapkan dalam sebuah lembaga yang unsure didalamnya memiliki kemampuan yang bervariasi atau bahkan tidak memiliki kemampuan.

c. Tipe Coersive
Tipe Coersive sama dengan supervise otoriter, dan tidak jauh berbeda dengan tipe inspeksi , karena memiliki sifat yang memaksa, sehingga dalam prakteknya supervisor memaksakan kehendaknya, tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi yang ada. Namun tipe ini bukan seluruhnya salah, hanya saja dalam prakteknya harus disesuaikan dengan kondisi yang ada, contohnya ketika dalam sebuah institusi atau lembaga, pegawai atau orang yang terlibat didalamnya belum memiliki kemampuan atau pengalaman, maka tipe ini bisa dilaksanakan, supaya pegawai tidak ragu atau kehilangan arah.



d. Tipe Training and Guidance
Supervisi tipe training dan guidance diartikan sebagai memberikan pelatihan dan bimbingan, dengan sebuah teori bahwa pendidikan merupakan proses pertumbuhan, perkembangan serta peningkatan, dalam tipe ini juga tentunya memiliki kelemahan yaitu kurangnya kepercayaan pada guru dan karyawan bahwa mereka mampu mengembangkan diri tanpa selalu diawasi, dilatih dan dibimbing oleh atasannya.

e. Tipe Demokrasi
Supervisi tipe demokratis memerlukan kondisi dan situasi khusus, tentunya adannya kepemimpinan yang bersifat demokratis pula, sehingga kondisi dan situasi kepemimpinan sekolah memang kondusif untuk terjadinya supervise tipe demokratis, maka fungsi – fungsi pengarahan, kordinasi, dan evaluasi dapat terjadi bukan satu arah, tetapi kolaboratif, sehingga meniscayakan adanya kerjasama semua pihak yang ada dalam organisasi.
Untuk memperoleh kemampuan memimpin seperti yang diharapkan tersebut seorang kepala sekolah harus mampu menciptakan kerja sama dengan para wakil kepala sekolah sehingga secara bersama – bersama dapat mengembangkan sekolah seutuhnya secara komprehensif dan terpadu.

3. Prinsip – Prinsip Supervisi
Adapun prinsip – prinsip supervise adalah ;
a. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada staf guru dan staf sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan, dan bukan mencari – cari kesalahan.
b. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung , artinya bahwa bimbingan dan bantuan tersebut tidak diberikan secara langsung tetapi harus diupayakan agar pihak yang bersangkutan tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa sendiri atau sepadan dengan kemampuan untuk mengatasi masalah sendiri.
c. Memberikan saran dan umpan balik secepat mungkin, dan memberikan ruang dialog kepada pegawai yang akan disupervisi, sehingga akan terjalinnya hubungan yang erat antara supervisor dengan yang disupervisi.
d. Kontiniuitas, artinya bahwa kegiatan supervise dilakukan secara berkala dan berkelanjutan, sehingga aka ada target capain yang semakin meningkat.
e. Relasi antara supervisor dan yang di supervise harus bersifat subyek – subyek, bukan subyek – obyek, sehingga akan terjadi proses interaksi yang baik antara supervisor dengan yang disupervisi.
f. Dokumentasi, maksudnya adalah dalam proses supervise, supervisor harus mendokumentasikan segala hasil supervisinya, baik berupa catatan singkat, atau yang lain yang berisi hal – hal penting, sehingga tidak terjadi a historist dalam proses supervise.
Sedangkan Ngalim Purwanto berpendapat bahwa prinsip – prinsipyang harus diperhatikan dalam supervise adalah ;
a. Supervisi hendaknya bersifat konstruktif dan kreatif, maksudnya adalah supervisor harus mampu memberikan motivasi kepada pihak yang disupervisi sehingga tumbuh dorongan atau motivasi untuk bekerja lebih giat dan mencapai hasil yang lebih baik.
b. Supervisi hendaknya didasarkan pada keadaan dan kenyataan yang sesuai dengan sebenar – benarnya.
c. Supervisi dilaksanakan dengan sederhana, tidak terlalu kaku dan muluk tapi sewajarnya.
d. Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak – pihak yang disupervisi, bukan sebaliknya.
e. Profesionalitas harus dibangun dalam proses supervise, sehingga tidak ada tendensi pribadi antara supervisor dan yang disupervisi.
f. Didasarkan pada jenis kemampuan, kesanggupan serta kondisi dan sikap pihak yang disupervisi, agar tidak menimbulkan rasa strees pada pihak yang disupervisi.
g. Dilaksanakan tidak dalam kondisi yang mendesak atau tiba – tiba, karena justru akan menimbulkan kegelisahan, implikasinya adalah tumbuh rasa jengkel.
h. Supervisi bukanlah inspeksi atau pemeriksaan
i. Supervisi merupakan sebuah kegiatan yang hasilnya memerlukan proses yang kadang – kadang tidak sederhana.
j. Supervisi hendaknya bersifat preventif, korektif dan cooperative.

Oteng Sutisna ( 1983 ) berpendapat adanya beberapa prinsip pokok tentang supervise, yaitu ;
a. Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan, supervise adalah layanan yang bersifat kerjasama,
b. Pada dasarnya semua personel pelaksana pendidikan disekolah memerlukan dan berhak atas bantuan supervise
c. Supervisi hendaknya disesuaikan dengan kondisi setempat karena berguna untuk memenuhi kebutuahan perseorangan dari personel sekolah
d. Supervisi adalah layanan yang tidak mungkin berjalan satu pihak melainkan kerja sama
e. Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan – tujuan dan sasaran – sasaran pendidikan, dan implikasinya.
f. Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf sekolah, dengan orang tua siswa dan masyarakat setempat serta pihak yang terkait dengan kehidupan sekolah.
g. Tanggung jawab program seperti berada pada dua pejabat, pertama supervise sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah sedangkan pengawas bertanggung jawab atas supervise semua sekolah yang menjadi wewenang pembinanya.
h. Supervisi yang merupakan bantuan dan pembinaan untuk guru dan staf TU
i. Evaluasi silang antar supervisor.
j. Supervise merupakan wahana untuk menjelaskan dan berdiskusi tentang hasil – hasil penelitian pendidikan yang mutakhir, tetapi belum ada wadah mengkomunikasikannya.








RANGKUMAN
1. Supervisi adalah kegiatan berupa bantuan dan bimbingan yang diberikan oleh supervisor yaitu pengawas dan kepala sekolah kepada guru dan staf tata usaha untuk meningkatkan kinerjanya dalam mencapai tujuan pendidikan.
2. Meskipun supervise ditujukan kepada guru dan staf tata usaha namun dampak dari bimbingan dan bantuan tersebut akan terasa pada siswa dalam bentuk meningkatnya prestasi belajar.
3. Ada empat tipe supervise yaitu ; a. Tipe inspeksi, b. laisses faire, c. Coersive, d. demokratis
4. Prinsip – prinsip supervise, antara lain ;
a. Supervisi adalah pemberian bimbingan dan bantuan kepada guru dan staf tata usaha agar mampu meningkatkan kinerja
b. Bimbingan dan bantuan diberikan secara langsung
c. Bimbingan dan bantuan harus dikaitkan dengan peristiwa yang memerlukan bimbingan
d. Dilakukan secara kontiniuitas dan konsisten
e. Dilakukan dalam suasana yang kondusif
f. Dokumentasi hasil pengawasan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar